Saksikanlah film Ruma Maida. Film ini sungguh berani tampil di tengah dominasi film Indonesia yang sarat esek-esek dan kisah horor. Film ini melawan arus. Menarik, walau mungkin bukan mainstream. Film Ruma Maida bercerita tentang sejarah. Bukan sejarah sebagai catatan-catatan peristiwa atau tanggal (seperti yang kita pelajari pada bangku sekolah di Indonesia), tapi sejarah sebagai sebuah makna. Sebuah catatan akan realitas yang terus bergerak dan layak dipahami dengan baik.  

Sejarah adalah kata yang “kering” di mata dunia pendidikan kita saat ini. Isinya melulu tentang tanggal dan hafalan tanpa makna. Ruma Maida mengingatkan kita akan keterlenaan bangsa ini dalam melihat sejarah. Di sini, kita mengenang ungkapan Milan Kundera, sastrawan Ceko, pemenang Nobel Kesusastraan. Ia berkata,”Langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu, bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat”.  

Kalimat Kundera ini saya renungkan berulang-ulang dan masih relevan dengan kondisi dan carut marut bangsa kita saat ini. Kita memang tak pernah belajar sejarah. Kita hanya menghafal sejarah. Lantas bagaimana sebuah sejarah dapat dituliskan kembali dan dikenang oleh generasi muda? Ruma Maida mencoba menuliskannya, tanpa harus terlihat mengajari. Film ini disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja dan naskahnya disusun oleh novelis Ayu Utami. Sebagaimana layaknya novel Ayu Utami, kisahnya penuh plot, flashback, dan maju mundur. Buat beberapa orang mungkin akan terlihat datar dan membosankan. Namun Teddy mampu menghadirkan gambar yang pas di film ini. Untuk kisah-kisah di masa lampau, pewarnaan sephia muncul dan terlihat lembut. Begitu cerita kembali ke masa kini, warna film dibuatnya lebih natural. Kesemuanya disusun artistik dan indah dirasa.  

Ruma Maida bercerita tentang Maida (Atikah Siholan), seorang mahasiswi yang idealis. Maida diceritakan mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah rumah tua yang terbengkalai. Pada suatu hari, seorang pengusaha bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan) meng-klaim rumah itu dan hendak mengubahnya menjadi pusat bisnis. Dasaad adalah seorang rasionalis ekstrem yang menegasikan sejarah. Ia tak mau hidup di masa lampau. Hidup adalah masa kini dan ke depan. Persetan dengan sejarah. Akhirnya, Maida dan anak-anak jalanannya harus terusir dari rumah itu. Maida tentu tidak menerima begitu saja. Ia berjuang keras untuk mempertahankan rumah tersebut. Dan dalam perjuangan itu, Maida menemukan banyak cerita serta sejarah dari rumah tua itu.  

Dari lompatan-lompatan cerita tersebut pulalah, kita melihat sebuah benang merah. Ada tiga hal yang dapat dijadikan permenungan dari film ini. Pertama, pentingnya pendidikan. Ruma Maida membawa cerita tentang pertarungan filosofis antara Soekarno dengan semangat Nation Buildingnya, dan Hatta yang ingin mengedepankan pendidikan sebagai strategi pembangunan bangsa Indonesia yang masih muda. Saat itu, pertarungan filosofis dimenangkan oleh Soekarno. Namun kini, pemikiran Hatta menjadi penting dan relevan. Pendidikan adalah modal dasar dalam sebuah pembangunan. Dan kita, jauh tertinggal dengan negeri tetangga.  

Hal kedua, pentingnya sejarah sebagai sebuah catatan yang membawa makna. Hal ini terefleksikan dalam garapan skripsi Maida yang mengangkat kisah sejarah yang hidup dan bergerak. Ia menulis kehidupan pemilik rumah tua yang ditinggalinya. Kata-kata Maida di penutup film, menirukan Bung Karno, JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah sebuah ajakan untuk mengenal dan menyelami sejarah. Bukan menghafal.  

Ketiga, film ini juga mengangkat sedikit pemahaman terhadap kekayaan architectural heritage bangsa kita. Ruma Maida mencoba untuk menyindir perilaku rakus dan serakah dari pemilik modal yang kerap menghancurkan bangunan tua demi kepentingan bisnis. Kota Bandung, Medan, Malang, Semarang, adalah kota-kota tua yang memiliki kekayaan arsitektur dan berisikan eksperimen para arsitek seperti Amsterdam School yang terkenal dengan Art Deconya. Tapi bangunan itu banyak yang dihancurkan demi kepentingan bisnis. Sungguh disayangkan. Kebiadaban pemodal itu mirip dengan perilaku Dasaad Muchlisin di film ini.  

Film ini layak ditonton bagi anda yang menganggap dirinya beradab dan menghargai sejarah. Iringan soundtrack dari band Naif menambah syahdu cerita. Melalui aransemen ulang lagu-lagu seperti “Juwita malam”, “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, dan “Ibu Pertiwi”, plus satu lagu “Keroncong Tenggara” yang diciptakan Ayu Utami, film ini bertambah ciamik untuk ditonton.  

Akhirnya pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah adalah bahwa masa lalu memang penuh kontestasi, dan kebenaran bisa jadi sekedar bangunan yang didirikan di atas perspektif dan motif-motif. Sejarah penuh misteri. Kebenaran kerap rapuh. Tapi mengenal sejarah, sangatlah penting. Seperti kata Gunter Grass dalam novelnya, The Crabwalk, saat kita melangkah mundur untuk mencari tahu tentang masa lalu, sesungguhnya kita sedang melangkah ke depan dan menafsirkan masa lalu itu dari perspektif kekinian. Ibarat jalan seekor kepiting. Dan di Ruma Maida, kepiting itu berjalan mundur untuk bergerak maju.

Source: http://hiburan.kompasiana.com/2009/11/06/ruma-maida-kala-sejarah-menggugat/
 
 
The first film to be released under the Singapore label Gorylah Pictures set up by Eric Khoo and Mike Wiluan, Rumah Dara aka Darah (or Macabre as it is known internationally) is a one of a kind slasher film from this part of the region, written and directed by the Indonesian duo Kimo Stamboel and Timo Tjahjanto, collectively known as The Mo Brothers, who actually had a short film version of this made back in 2007 which was simply called Dara, also starring actress Shareefa Daanish as the Mother of all Evil.  

As a horror film, it did take its time to set up the premise, rather than to jump headlong into flat out boo-tactics. For about 20 minutes, we're introduced to a group of 4 guys and 2 girls, and their relationship with one another, some by blood, some estranged. They meet in a pub in Bandung and are supposed to go on a road trip to Jakarta, until they are stopped by the beautiful yet mysterious Maya (Imelda Therinne), and in playing the Good Samaritan, decided to drop her off along the way.  

So there you have it, a nice handful r of people, some of whom you'll grow to dislike, a road trip, a mysterious lady, and a house in the middle of nowhere. Soon we're introduced to the cool and emotionless Dara (Daanish), and the entourage will soon find themselves in a horrific situation where survival is of the highest order. As I mentioned, it does take a while to build up the premise, and you can feel the calm before the storm with the incessant ticking clock in the audio background, as if counting down the moments where first blood gets drawn.  

The eager beaver in me though found it a tad excruciating in the wait, especially when you don't really get to learn much of Dara and her family's background apart from some rapid shots. The directors went straight for the action, and Kimo in an interactive session after the film, had revealed that more of the background of Dara, could be explained in the next film, which they hadn't decided whether to set it forward, or backward in time.  

Alas the rating of the film at M18, meant that the editing was a tad choppy, where enough scenes were jarring just because they had lingered on far too longer than the comfort zone afforded. This has a slight impact on the narrative flow, as one minute you see the death blow being applied, and the next you're faced with a jump cut that shows the few seconds after. Thick, crimson blood was also the order of the day from set design to makeup, where everyone gets drenched thoroughly in coagulating plasma no thanks to the insanely violent bloodbath. Genre fans should take delight in watching how (?) 

Character-wise, the creators went for the rather contemporary female-superiority style, where guys are made to look really bumbling, and sheer tenacity comes from the females instead, such as Ladya (Julie Estelle) who demonstrates extreme spunk and quick thinking to ensure she comes out of each ordeal as best as she can. You're likely to cheer her on as she takes on the villains, and her solo battle with Dara is a highlight in the film. Dara herself too gives you the creeps especially since Shareefa Daanish put in a measured performance balancing composure, and that mad frenzy baying for blood. It's no wonder she was handed the Best Actress award at the genre Puchon International Film Festival not too long ago.  

It's not all blood and gore however, as there were ample time devoted to some slight comedy, especially when the cops come knocking. Serving two purposes in providing light entertainment before the going gets heavy, and also to add to the body count, this episode was perhaps the most fun of the lot, and became a catalyst for the bloodbath to follow in a relatively quickened pace, with dismemberment, quick slashes, deep stabs, and strangulation being the norm, with The Mo Brothers keeping things tight.   Darah should appeal to the patient horror fan who can sit through a build up and celebrate when the madness start to descend on the poor victims. It's a little unfortunate though that the real horror was the way this rated version was edited.    

Source: http://anutshellreview.blogspot.com/2009/10/darah-aka-macabre.html